Minggu, 30 Maret 2014

RESENSI NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH I

Ketika Cinta Bertasbih I
Ø  IDENTITAS BUKU
Judul                                       : Ketika Cinta Bertasbih 1
Jenis Buku                               : Fiksi
Penulis                                     : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit                                   : Republika-Basmalah
Tahun terbitan                         : 2007
Dimensi                                   : 20,5 cm x 13,5 cm
Tebal Buku                              : 477 halaman

Ø  TUJUAN RESENSI
·         Memenuhi tugas Bahasa Indonesia
·         Menganalisis isi dari novel Ketika Cinta Bertasbih layak atau tidak untuk dibaca

Ø  SINOPSIS
Azzam adalah seorang pemuda sederhana yang memilih untuk menuntut ilmunya di Kampus AlAzhar, Cairo. Azzam dikenal sebagai sosok yang tegas dan dewasa. Dia sangat memegang teguh prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Di kalangan teman-temannya pun Azzam menjadi panutan dan sosok yang bisa diandalkan.
Setelah bapaknya meninggal, sebagai anak tertua dalam keluarganya, dialah yang menanggungkehidupan keluarganya di Solo. Oleh karena itu, selain sebagai mahasiswa, dia juga bekerjakeras sebagai pembuat tempe dan bakso untuk menghidupi ibu dan adik-adik perempuannya diIndonesia serta kehidupannya sendiri di Cairo. Bahkan Azzam, rela meninggalkan kuliahnya untuk sementara dan lebih berfokus untuk mencari rezeki. Meski terkadang ada rasa iri melihat teman-teman satu angkatannya yang sudah terlebih dahulu lulus, bahkan ada yang hampir menyelesaikan S2-nya tapi Azzam segera sadar kalau dia tidak sama dengan teman-temannya yang lain.
Azzam lebih dikenal sebagai tukang tempe di kalangan mahasiswa Indonesia yangsedang kuliah di Al Azhar.Azzam juga sering mendapatkan undangan dari duta besar Indonesia yang ada di Mesir untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pada acara-acara kebesaran. Jadi, selain terkenal di kalanganmahasiswa sebagai tukang tempe, Azzam juga terkenal di kalangan para duta besar.Saat bekerja itulah Azzam mengenal sosok Eliana.
 Eliana adalah sosok yang sempurna secara fisik. Putri duta besar, cantik, dan salah seorang lulusan Universitas di Jerman. Akan tetapi, prinsip-prinsi keislaman yang Azzam pegang teguh membuat Azzam mampu menepis perasaannya. Saat bekerja juga Azzam secara tidak sengaja bertemu dengan Anna Althafunnisa. Dialah perempuan yang memikat hatinya dan hendak ia lamar. Namun, status sosialnya membuatAzzam ditolak. Yang lebih mencengangkan Azzam adalah Anna justru menerima lamaran dair Furqan, sahabat Azzam sendiri yang memiliki status sosial lebih tinggi daripada Azzam. Azzam akhirnya mampu melanjutkan kuliahnya setelah adiknya menyelesaikan pendidikan. Setelah dia lulus dari Al Azhar dengan nilai yang cukup memuaskan, akhirnya setelah 9 tahun terpisah dengan keluarganya tanpa pernah pulang, dia pun pulang dan kembali ke tengah-tengah keluarga tercintanya

Unsur-unsur Intrinsik
1. Tema
 Tema dalam novel ini adalah cinta islam.
2. Penokohan
Tokoh utama dalam novel ini adalah Abd. Khairul Azzam. Dan tokoh tambahannya adalah diantaranya Elliana, Anna dan Furqan.
·         Abdullah Khairul Azzam
            Seorang mahasiswa yang sederhana, kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berani mengambil resiko, pantang menyerah dan berjiwa usaha yang tinggi. setiap ada peluang sedikit untuk melakukan manuver bisnis pasti dimanfaatkan secara baik tidak peduli resikonya tinggi, asal ada kemauan pasti ada jalan.
 Selain itu Azzam merupakan kakak yang sangat peduli terhadap ibu dan adik - adiknya, walaupun mengorbankan kuliahnya untuk bekerja, Azzam bangga karena pada akhirnya dapat mengantarkan adik - adiknya menggapai cita - cita. Husna adiknya yang pertama berhasil menjadi psikolog dan penulis terbaik nasional. Lia adik keduanya lulus P GSD, dan menjadi guru favorit di SDIT Al Kautsar Solo. Dan adik bungsunya Sarah, hampir khatam Al Quran di Pesantren Al Quran di Kudus. Sosok seorang Azzam sebagai kakak mencerminkan betapa besarnya kasih sayang dan pengorbanan kepada adik -adiknya patut dijadikan contoh.
ü  Kreatif
“Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya adalah mahasiswa Al-Azhar yang tidak lulus-lulus karena lebih senang bisnis tempe, bakso, dan katering.” (hal.65)
ü  Rajin
“Mungkin saat itu mas khairul sedang capek. Letih. Orang kalau letih itu bisa tidak jernih pikirannya. Cobalah ingat, kemarin ia kerja sejak pagi sampai malam.” (hal.105).
ü  Tanggung jawab
“Allah belum mengizinkan aku menikah. Aku masih harus memperhatikan adik-adikku sampai ke gerbang masa depan yang jelas dan cerah”. (hal.121)
“ia langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua. Ia menangis. Ia merasakan betapa sayangnya Allah kepadanya. Allah masih ingin ia focus pada tanggung jawabnya membiayai adik-adiknya.” (hal.121)
“aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik-adikmu di Indonesia…” (hal.65)
ü  Mandiri
“Saat itu ia sendiri sedang sangat memerlukan datangnya sumber rejeki untuk mempertahankan hidupnya, dan juga adik-adiknya. Jadilah ia terjun total dalam bisnis membuat bakso.” (hal.224)
ü  Penolong
“Baiklah, sekarang masalah Bantu membantu. Bukan bisnis. Saya ingin murni membantu, jadi saya tidak akan mengharapkan apapun dari mbak.” (hal.50)
“O, ya sudah. Semoga bisa dilacak.”sahut Azzam sambil menutup pintu taksi. Taksi perlahan bergerak. Pikiran Azzam juga bergerak bagaimana mendapatkan kembali kitab itu.”(hal.197)
ü  Soleh
“Ia membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan dia harus mendahulukan yang datang lebih dulu.” (hal.45)
ü  Cerdas
“Ia adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir dari kalangan keluarga pas-pasan; jadi, sangat khas Indonesia! Kecerdasan azzam kian terbukti tatkala ditahun pertama menimba ilmu di Al-Azhar ia memperoleh predikat jayyid jiddan(istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari majlis A’la.” (hal.)

·         Eliana Pramesthi Alam
 Seorang putri tunggal dari duta besar negara Indonesia yang berada di Mesir, keberadaannya disana untuk menemani kedua orangtuanya serta melanjutkan S2 nya di American University in Cairo (AUC). Berwatak keras, sombong, ketus, dan egois. Gadis yang bersuara merdu, fostur tubuh yang indah dan cantik ini juga dianugrahi sosok yang cerdas, pintar, suka debat dan sangat gemar menulis opini dalam bahasa inggris sehingga banyak meraih berbagai macam prestasi. Eliana yang lama tinggal di Paris membuat kehidupannya jauh berbeda dengan wanita-wanita Indonesia yang mengambil studi di Cairo. Kesabaran dan kesalihan Azzam mampu meredup keangkuhan Eliana dengan menjelaskan kembali beberapa nilai agama yang selama ini dianggap remeh dan dilalaikan oleh Eliana.
ü  Cantik
“Wajahnya yang putih dengan mata yang bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.” (hal.46)
ü  Pintar
“Tulisannya rapi, runtut, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan perpaduan pandangan seorang jurnalis, sastrawan dan diplomat ulung.” (hal.36)
ü  Emosi
“ia memang orang yang mudah emosi jika ada sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan suasana hatinya.” (hal.95)
ü  Peremeh
“Ah shalat itu gampang! Yang penting ini. Ada tugas penting untuk mas khairul malam ini. Tugas terakhir. Aku janji!” sahut Eliana nerocos tanpa rasa dosa karena menggampangkan shalat.” (hal.46)

·         Anna Althafunnisa
            Mahasiswi Indonesia yang menempuh kuliah S2 di Cairo. Dari keluarga kiyai terhormat di Klaten. Anna memiliki watak sederhana dan sedikit tertutup. Prestasi yang diraih Anna tidak sedikit dari kecil, sampai kuliah di Kuliyyatul Banat al-Azhar ia pun sering menulis dimajalah salah satunya Al Wa’yu Al Islami, banyak artikel yang dia muat di sana. Anna yang telah menikah dengan Furqan dan belum pernah dinafkahi batinnya sama sekali membuat furqan harus jujur bahwa ia divonis penyakit AIDS meskipun sesungguhnya itu negatif. Akhirnya Anna bercerai dari Furqan dan menikah dengan Azzam yang telah lama mengidamkan sosoknya.
ü  Pintar
“Anna adalah bintangnya pesantren Daarul Quran. Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi dan prestasi selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S1-nya di Alexandria dengan predikat mumtaz.” (hal.120)
ü  Solehah
“Kalau kamu mendapatkan Ana, kamu telah mendapatkan surga sebelum surga.” (hal.91)
ü  Sederhana
“Dan Ana lebih memilih menutup diri dari kegiatan-kegiatan yang bersifat glamour.” (91)
ü  Santun
“Anna menunggu Bu Nafis sampai beranda. Begitu bu Nafis mendekat Anna langsung meraih tangan perempuan setengah baya itu dan menciumnya penuh rasa ta’zim.” (hal.89)
ü  Cantik
“Kedua matanya yang sedikit merah mengguratkan kelelahan. Namun sama sekali tidak mengurangi pesona kecantikannya.” (hal.252)

·         Furqan
            Seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan Magister di al-Azhar Cairo. Ia berasal dari keluarga kaya. Salah satu anak konglomerat di Jakarta, sehingga kuliahnya berjalan lurus dan cepat diselesaikan tanpa hambatan. Tokoh Furqan ditampilkan istimewa karena selain materi yang dia punya, penampilan ia juga menarik. Wataknya yang tidak sombong dan baik hati membuat dia bisa berteman dengan siapa saja. Kelalaian pun membuat Furqan terjebak dalam sebuah masalah yang mana akhirnya dia harus bercerai dari Anna, dan akhirnya menjalin hubungan dengan Eliana yang telah berubah menjadi muslimah.
ü  Ramah
“Setelah berpelukan, Furqan mengajak Azzam menemani makan roti kibdah disamping sebuah masjid tua sambil berbincang-bincang.” (hal.106)
ü  Glamour
“Furqan langsung merasakan kesejukan dan kemewahan kamarnya. Kemewahan Eropa kontemporer hasil perkawinan arsitektur Italia dan turki modern.” (hal.155)
ü  Intelek
“Furqan lebih dikenal sebagai intelek muda yang sering diminta menjadi nara sumber di pelbagai kelompok kajian…..” (hal.61)
ü  Ceroboh
“Ini teguran dari Allah atas cara hidupmu yang menurutku sudah tidak wajar sebagai seorang penuntut ilmu.” (hal.289)
3. Alur
            Dalam mengolah alur, setiap pengarang dapat mempergunakan bermacam-macam cara. Cara yang digunakan dalam cerita ini adalah alur progresif, yaitu jalan cerita atau peristiwa yang diceritakan bersifat kronologis, atau secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemunculan konflik), tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian).
Pada tahap awal diceritakan situasi atau keadaan Azzam sebagai seorang mahasiswa Al-Azhar yang rajin diselang waktunya digunakan untuk berjualan tempe, bakso, serta catering. Untuk mempertahankan hidupnya di Cairo, demi menghidupi ibu dan adik-adiknya di Indonesia sejak ditinggal ayahnya ketika duduk di bangku semester 2 Al-Azhar. Semangatnya yang tinggi sejak awal berubah menjadi seorang pekerja keras. Eliana anak duta besar Indonesia di Cairo yang minta bantuan Azzam untuk membuat jamuan makanan khas Indonesia pun sangat mengagumi sosok Azzam.
Dilanjutkan dengan tahap tengah Azzam yang mengidamkan seorang wanita solehah bernama Anna pun harus direlakan untuk sahabatnya. Furqan yang telah mengenal Anna terlebih dahulu ternyata menaruh perhatian juga terhadapat Eliana. Karena sebab inilah yang membuat Furqan menjadi bingung, akan tetapi Furqan telah melamar Anna melalui pamannya ust.Mujab. Azzam dengan kekurangannya pun tak berdaya menghadapi percintaan ini. Hanya dengan kebesaran dan doa kepada Allahlah ia serahkan.
            Klimaks dari cerita ini, dengan pertimbangan yang lama akhirnya Anna menerima lamaran Furqan. Furqan yang terjebak dalam musibah pemerasan, dan divonis terkena AIDS harus merahasiakan semua ini pada Anna. Pernikahan Anna dan Furqan tidak pernah bahagia. Perceraian pun harus dialami oleh Anna dan Furqan.
Tahap akhir dikisahkan melalui Husna, adik Azzam di Indonesia. Terjadilah pertemuan antara Azzam dan Anna. Anna yang pernah sekilas mengenal Azzam di Cairo, sesungguhnya menaruh perhatian khusus. hanya saja pertemuan itu sangatlah singkat. Diakhiri dengan Anna yang telah bercerai dari Furqan dan belum pernah mendapat nafkah batin dari mantan suaminya pun mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan Azzam. Furqan dipertemukan kembali dengan Eliana yang telah berubah menjadi muslimah, dan semua vonis tentang penyakit AIDS itu ternyata tidak benar.
 4. Latar
            Latar dapat dibedakan ke dalam unsur tempat, waktu, dan sosial. Berikut akan dijelaskan dari ketiga unsur tersebut:
 a. Latar Tempat
·         Kota Alexandria
“ia mengalihkan pandangannya jauh ketengah laut mediterania. Nan jauh di sana ia melihat tiga kapal yang tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandria…”.
            Selain itu juga diceritakan pula sebuah taman di Indonesia yaitu Taman Mini Indonesia indah, makam Bonoloyo di Solo, rumah Anna di pesantren Daarul Quran, serta rumah Azzam dan keluarga di Indonesia.
b. Latar Waktu
 Latar waktu dalam cerita ini tidak dijelaskan secara langsung oleh pengarang, namun dapat ditarik kesimpulan cerita ini berlangsung ketika Azzam mulai menuntut ilmu pada jenjang perguruan tinggi di Universitas Al Azhar, Cairo. Sampai akhirnya ia harus bekerja keras untuk mempertahankan kuliahnya sampai selesai beserta keluarganya yang ada di Indonesia. Seperti petikan berikut:
 “Dan akan ia buka kembali saat nanti sudah pulang ke Indonesia. Setelah ia sudah selesai S1 dan adik-adiknya sudah bisa ia percaya mampu meraih masa depannya”. (hal.121)
 “Padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir. Ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Baginya, yang penting ia telah melakukan hal yang benar. Benar untuk dirinya, ibunya, adik-adiknya dan agamanya. (hal.212)
 c. Latar Sosial
 Cerita ini mengangkat sosial masyarakat Mesir yang kental sekali dengan islam dan para mahasiswa Indonesia. Dalam novel ini dijelaskan dengan detail aktifitas para mahasiswa dalam menuntut ilmu di Al Azhar, dan kegiatan yang sering dibuat oleh KBRI. Kemudian diceritakan juga masyarakatnya yang heterogen, sikap toleransi, dan saling tolong menolong. Hidup dengan kebersamaan, kesederhanaan dan kedamaian. Serta kota indah yang menjadi pelabuhan utama di Alexandria. Seperti gambaran
 “Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu-lampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap-kelip lampu kota yang mendapat julukan “sang pengantin laut mediterania” itu bagai tebaran intan berlian…”.


 5. Gaya Bahasa
            Pengarang menggunakan bahasa yang sederhana. Namun banyak ditemui beberapa gaya bahasa dalam cerita ini. Diantaranya gaya bahasa simile seperti ungkapan “gadis itu adalah kilau matahari di musim semi”. Metafora seperti ungkapan “ia menjadi buah bibir dikalangan mahasiswa dan masyarakat Mesir”.
 Banyak pula terdapat ungkapan bahasa asing seperti bahasa arab “anta ya Azzam kaif hal? ”ana bi khair. A lhamdulillah. Andak ful shoya? “thob’an ‘andi. “aisy kam kilo?”khomsah wa’isyrin kilo kal ‘adah.” Bahasa inggris “good afternoon sir, can I help u”. Bahasa jawa “sir, ojo lali yo. Ojo kok ke neng kene. Ora tak ijini! Wis aku tak turu ndisik!”.
Ø  KELEBIHAN NOVEL
1.      Novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauhmengungkapkan kecintaan terhadap Allah.
2.      Merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna.
3.      Gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan penulis novel.
4.      Sarat akan pengetahuan.

Ø  KEKURANGAN NOVEL
1.      Untuk novel dengan pengarang yang sama dan konsep yang sama pula, latar yang dipilih kurang variatif.

2.      Bahasa yang digunakan ada yang memakai bahasa asing sehingga menyulitkan pembaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar