Laskar Pelangi
Ø IDENTITAS
BUKU
Judul Buku :
Laskar Pelangi
Jenis Buku :
Fiksi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Kota Tempat Terbit : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan III, Juli 2007
Tebal halaman : 533 halaman termasuk juga tentang penulis
Harga : Rp.69.000,-
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Kota Tempat Terbit : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta
Tahun Terbit : Cetakan III, Juli 2007
Tebal halaman : 533 halaman termasuk juga tentang penulis
Harga : Rp.69.000,-
Ø TUJUAN
RESENSI
Banyak orang (teman-teman) yang
telah mengatakan bahwa buku ini bagus kepada saya, maka dari itu saya menjadi
penasaran dan ingin membacanya. Setelah saya baca ternyata buku ini tidak hanya
sekedar bagus tetapi “sangat bagus”, karena di dalamnya banya terdapat
pelajaran yang dapat kita ambil tentang keagamaan, persahabatan yang luar
biasa, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir
yang tidak bisa kita tebak.
PP
Ø SINOPSIS
SD Muhammadiyah tampak begitu rapuh dan
menyedihkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara
Timah). Mereka tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya
justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang
mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus
menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas
dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak
Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat
miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok.
Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena
kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang
masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor.
Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para
donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah bobrok, ruang
kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam
dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi
sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo
beras, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang
kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.
Kendati
demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak
seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama
kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP
(Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak
kecil miskin itu.
Dari waktu ke
waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak tadi agar
percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan
sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas
muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi
kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga
menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat
beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan
mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi
julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah,
dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan
sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota
laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas
tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu
prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda
sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar
pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan
menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus
menghidupi keluarga, sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia.
Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena
seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah
keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan
mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu
akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri,
tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak
Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya
kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar
pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and
development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di
negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan
research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with
distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris.
Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan
kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang
hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di
ujung paling Selatan Sumatera sana.
Pokok-pokok Isi Novel (Unsur Instrinsik)
a.Tema
Persahabatan sepuluh anak yaitu Ikal, Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, Trapani, Borek, Kucai dan satu-satunya wanita di kelas mereka, Sahara dari orang kecil yang mempunyai cita-cita yang tinggi dengan bersekolah di pendidikan rakyat kecil Sekolah Muhamadiyah.
Persahabatan sepuluh anak yaitu Ikal, Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, Trapani, Borek, Kucai dan satu-satunya wanita di kelas mereka, Sahara dari orang kecil yang mempunyai cita-cita yang tinggi dengan bersekolah di pendidikan rakyat kecil Sekolah Muhamadiyah.
b. Penokohan
- Ikal : Pandai dan tidak mudah putus asa
Ikal
merupakan tokoh utama. Di sekolah ia termasuk murid yang lumayan pandai, namun
kepandaiannya masih di bawah dari temannya yaitu Lintang. Ia selalu berada di
peringkat kedua di sekolah setelah Lintang. Ikal termasuk orang yang tidak
mudah putus asa, selalu bersemangat melakukan hal yang ia sukai dan tegar. Ikal
begitu menyukai puisi. Ikal diceritakan menyukai seorang gadis keturunan
Tionghoa bernama A Ling. Ia sering sekali mengirimkan puisi tentang luapan
perasaannya kepada A Ling.
- Taprani : Pendiam dan santun
Taprani
merupakan sosok yang tampan, pendiam karena dia merupakan siswa yang paling
diam dari siswa yang lain. Dia memiliki sifat yang santun dan sangat berbakti
kepada orang tua. Ia bercita-cita menjadi guru di daerah terpencil untuk
memajukan pendidikan orang melayu pedalaman. Taprani selalu diperhatikan
ibunya.
- Harun : Santun dan murah senyum
Harun yang
sudah mulai memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar pada usia lima belas
tahun ini mengidap keterbelakangan mental. Sifatnya santun, pendiam, dan murah
senyum. Laki-laki yang memiliki model rambut seperti Chairil Anwar ini hobi
sekali mengunyah permen asam jawa. Ia pun selalu berpakaian rapi. Di kelas, ia
sama sekali tidak bisa menangkap pelajaran membaca atau pun menulis. Ia pun
sering kali bercerita tentang kucing belang tiganya yang melahirkan tiga anak
yang juga bebelang tiga secara berulang-ulang.
- Lintang : Pandai dan semangat tinggi
Lintang
merupakan anak yang paling jenius dan gigih di antara teman-temannya. Meski pun
jarak rumahnya dari sekolah sangat jauh (80 km), ia tetap semangat untuk pergi
ke sekolah dan menjadi anak yang paling pagi datang. Setiap berangkat sekolah,
ia harus melalui jalan yang merupakan tempat buaya tinggal. Ayahnya adalah seorang
nelayan miskin yang bertanggung jawab menafkahi empat belas nyawa yang tinggal
di rumahnya. Di sekolah, Lintang begitu serius belajar dan aktif. Otaknya yang
jenius dan cermat membawa tim SD Muhammadiyah menjadi pemenang dalam lomba
cerdas cermat. Lintang sangat suka membaca dan mempelajari berbagai ilmu
penngetahuan. Lintang pun tak segan membagi ilmunya kepada teman-temannya.
Idenya sangat kreatif. Lucunya, kelihaiannya dalam berpikir tidak dibarengi
dengan tulisan tangan yang indah.
- Mahar : Imajinatif dan kreatif
Mahar
memiliki bakat dalam bidang seni, baik itu menyanyi, melukis, seni rupa dan
lain sebagainya. Pemikirannya imajinatif dan kreatif. Anak tampan ini termasuk
orang yang menggemari dongeng-dongeng yang tak masuk akal (mungkin karena ia
terlalu imajinatif). Mahar sering kali diejek dan ditertawakan teman-temannya
karena pemikirannya dianggap aneh.
- Bu Muslimah : Gigih dan baik hati
Wanita
bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari ini adalah guru di SD Muhammadiyah. Ia
sangat gigih dalam mengajar meski pun gajinya belum dibayar. Ia sangat
berdedikasi terhadap dunia pendidikan dan dengan segenap jiwa mengajar
murid-murid di SD Muhammadiyah. Wanita cantik yang menyukai bunga ini memiliki
pendirian yang progresif dan terbuka terhadap ide-ide baru. Ia termasuk orang
yang sabar dan baik hati karena pada saat pendaftaran, ia begitu sabar menunggu
murid kesepuluh.
- Pak Harfan : Baik hati dan berdedikasi tinggi
Pria
bernama lengkap K.A Harfan Efendy Noor ini menjabat sebagai kepala SD
Muhammadiyah. Bersama Bu Muslimah, ia tetap mempertahankan sekolah yang hampir
ditutup karena kekurangan siswa. Pak Harfan juga memiliki dedikasi tinggi
terhadap pendidikan.
- A Ling : Baik hati dan santun
Gadis
keturunan Tiongoa ini merupakan cinta pertama Ikal. Ia memiliki tubuh yang
ramping dan tinggi. Ia memiliki sifat baik hati pada semua orang terutama
terhadap ikal. Anak dari pemilik toko Sinar Harapan ini ternyata juga menyukai
Ikal.
c. Alur
Di dalam novel ini memakai alur maju.
Di dalam novel ini memakai alur maju.
Pengenalan Situasi Cerita
Cerita diawali dengan dibukanya penerimaan murid baru di SD Muhammadiyah yang ada di Belitong. Sebuah daerah yang kaya akan sumber daya alamnya yaitu timah. Pagi itu, satu demi satu calon siswa yang didampingi oleh orang tuanya berdatangan mendaftarkan diri di sekolah yang hampir roboh dan mungkin sudah tidak layak untuk dipakai sebagai tempat belajar-mengajar.
Awal ketegangan
Konflik pertama yang muncul dalam novel tersebut adalah ketika anak-anak yang mendaftar ke sekolah tersebut ternyata tidak mencukupi batas minimal atau persyaratan yang ditentukan oleh Pemerintah. Apabila hal tersebut tidak bisa ditangani, maka sekolah akan dibubarkan.
Puncak Konflik
Puncak konfliknya ialah setelah ditunggu hingga siang, ternyata jumlah pendaftar tidak lebih dari sembilan orang. Jumlah ini tentu saja belum mencukupi persyaratan Pemerintah. Hal ini tentu saja sangat mencemaskan Pak Harfan sang kepala sekolah dan Bu Muslimah sang guru. Sampai pada akhirnya Pak Harfan memutuskan untuk memberikan pidato sekaligus mengumumkan bahwa penerimaan siswa baru dibatalkan. Namun konflik selanjutnya yang secara garis besar melibatkan hampir semua tokoh ialah saat akan diadakannya lomba karnaval dan cerdas cermat antar sekolah.
Penyelesaian
Sesaat hampir saja Pak Harfan memulai pidatonya untuk memberitahuakan bahwa penerimaan siswa baru di SD Muhammadiyah dibatalkan, seorang ibu muncul untuk mendaftarkan anaknya (Harun) yang mengidap keterbelakangan mental. Tentu saja kedatangan Harun dan ibunya ini memberikan napas lega kepada Pak Harfan, Bu Muslimah dan juga para calon siswa serta orang tuanya. Harun telah menggenapi jumlah siswa untuk menghindarkan SD Muhammadiyah dari penutupan. Ketika akan mengikuti perlombaan, seperti cerdas cermat, keikutsertaan mereka sempat diragukan karena kekurangan dana serta fasilitas lainnya, akan tetapi, Bu Muslimah begitu yakin untuk tetap mengikuti perlombaan, akhirnya Bu Muslimah menunjuk beberapa anak untuk mengikuti perlombaan tersebut, dan akhirnya SD Muhammadiyah pun juara dalam pertandingan tersebut atas keyakinan dan kepercaya dirian mereka.
Cerita diawali dengan dibukanya penerimaan murid baru di SD Muhammadiyah yang ada di Belitong. Sebuah daerah yang kaya akan sumber daya alamnya yaitu timah. Pagi itu, satu demi satu calon siswa yang didampingi oleh orang tuanya berdatangan mendaftarkan diri di sekolah yang hampir roboh dan mungkin sudah tidak layak untuk dipakai sebagai tempat belajar-mengajar.
Awal ketegangan
Konflik pertama yang muncul dalam novel tersebut adalah ketika anak-anak yang mendaftar ke sekolah tersebut ternyata tidak mencukupi batas minimal atau persyaratan yang ditentukan oleh Pemerintah. Apabila hal tersebut tidak bisa ditangani, maka sekolah akan dibubarkan.
Puncak Konflik
Puncak konfliknya ialah setelah ditunggu hingga siang, ternyata jumlah pendaftar tidak lebih dari sembilan orang. Jumlah ini tentu saja belum mencukupi persyaratan Pemerintah. Hal ini tentu saja sangat mencemaskan Pak Harfan sang kepala sekolah dan Bu Muslimah sang guru. Sampai pada akhirnya Pak Harfan memutuskan untuk memberikan pidato sekaligus mengumumkan bahwa penerimaan siswa baru dibatalkan. Namun konflik selanjutnya yang secara garis besar melibatkan hampir semua tokoh ialah saat akan diadakannya lomba karnaval dan cerdas cermat antar sekolah.
Penyelesaian
Sesaat hampir saja Pak Harfan memulai pidatonya untuk memberitahuakan bahwa penerimaan siswa baru di SD Muhammadiyah dibatalkan, seorang ibu muncul untuk mendaftarkan anaknya (Harun) yang mengidap keterbelakangan mental. Tentu saja kedatangan Harun dan ibunya ini memberikan napas lega kepada Pak Harfan, Bu Muslimah dan juga para calon siswa serta orang tuanya. Harun telah menggenapi jumlah siswa untuk menghindarkan SD Muhammadiyah dari penutupan. Ketika akan mengikuti perlombaan, seperti cerdas cermat, keikutsertaan mereka sempat diragukan karena kekurangan dana serta fasilitas lainnya, akan tetapi, Bu Muslimah begitu yakin untuk tetap mengikuti perlombaan, akhirnya Bu Muslimah menunjuk beberapa anak untuk mengikuti perlombaan tersebut, dan akhirnya SD Muhammadiyah pun juara dalam pertandingan tersebut atas keyakinan dan kepercaya dirian mereka.
d. Sudut Pandang
Memakai kata ganti orang pertama tunggal atau memakai akuan sertaan, karena dalam penceritaan novel penulis menggunakan kata aku.
Memakai kata ganti orang pertama tunggal atau memakai akuan sertaan, karena dalam penceritaan novel penulis menggunakan kata aku.
e.
Latar (Setting)
Tempat : di sekolah, di bawah pohon, di gua, dan di rumah.
Suasana : menyenangkan, menyedihkan, dan menegangkan.
Latar suasana yang ada dalam novel ini beragam dikarenakan konflik-konfik yang muncul juga beragam. Ada senang, sedih, hingga cemas. Berikut beberapa penggalan kisah yang menjelaskan suasana dalam novel :
1) Suasana Sedih. Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana sedih ialah saat Ikal, teman-temannya dan Bu Muslimah berpisah dari Lintang yang memutuskan berhenti sekolah karena harus mengurusi keluarga yang ditinggal mati ayahnya.
2) Suasana Senang. Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana senang ialah saat tim cerdas cermat SD Muhammadiyah berhasil memenangkan pertandingan.
3) Suasana Cemas. Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana cemas ialah saat Pak Harfan, Bu Muslimah dan calon murid SD Muhammadiyah beserta orang tuanya menunggu untuk melengkapi jumlah siswa menjadi 10 calon siswa yang mendaftar agar sekolah tidak ditutup.
Kapan : siang hari, sore hari, dan malam hari atau lebih tepatnya sekitar tahun 1974-an.
Tempat : di sekolah, di bawah pohon, di gua, dan di rumah.
Suasana : menyenangkan, menyedihkan, dan menegangkan.
Latar suasana yang ada dalam novel ini beragam dikarenakan konflik-konfik yang muncul juga beragam. Ada senang, sedih, hingga cemas. Berikut beberapa penggalan kisah yang menjelaskan suasana dalam novel :
1) Suasana Sedih. Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana sedih ialah saat Ikal, teman-temannya dan Bu Muslimah berpisah dari Lintang yang memutuskan berhenti sekolah karena harus mengurusi keluarga yang ditinggal mati ayahnya.
2) Suasana Senang. Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana senang ialah saat tim cerdas cermat SD Muhammadiyah berhasil memenangkan pertandingan.
3) Suasana Cemas. Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana cemas ialah saat Pak Harfan, Bu Muslimah dan calon murid SD Muhammadiyah beserta orang tuanya menunggu untuk melengkapi jumlah siswa menjadi 10 calon siswa yang mendaftar agar sekolah tidak ditutup.
Kapan : siang hari, sore hari, dan malam hari atau lebih tepatnya sekitar tahun 1974-an.
f. Bahasa
Bahasa yang digunakan tetap bahasa Indonesia
tetapi tidak jarang kita jumpai bahasa daerah yang dimana tempat kejadiannya
adalah Belitung, yaitu pulau terpencil yang ada di Sumatra.
g. Amanat Novel
- Janganlah menyerah, hiraukan orang yang menggangumu, teruslah berjalan jika menurutmu itu benar.
- Dari bersekolah dengan sungguh-sungguh cita-cita akan tercapai walaupun dengan usaha dan perjuangan yang sulit.
Nilai-nilai Novel (Unsur Ekstrinsik)
Kita
dapat mengambil pelajaran bahwa bagaimanapun hidup yang kita jalani, kita harus
senantiasa bersyukur. Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam
kemiskinan yang membelit cita-cita yang tingggi. Pada dasarnya kemiskinan tidak
berkorelasi/berinteraksi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Banyak
sekali pelajaran yang dapat kita teladani dari novel tersebut seperti
keagamaan, moral, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna
sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Selain itu kita dapat mencontoh tokoh-tokoh
yang dapat diteladani seperti tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus,
gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, dan sebagainya.
Ø KELEBIHAN BUKU
- Dalam hal organisasi novel ini, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran pembaca. Karena dalam penceritaan isi novel tidak berbelit-belit.
- Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah tokoh utama buku ini
Ø KEKURANGAN
BUKU
Namun ada satu
kelemahan penting yang harus diwaspadai oleh para pembaca. Hal ini agar mereka
tidak terpengaruh oleh satu ide yang ada di dalamnya. Ide itu adalah ide
tentang teori kreasionisme (penciptaan). Ide teori kreasionisme (penciptaan)
merupakan kebalikan dari teori Evolusionisme. Ide itu sungguh antik karena
meski demikian minim bukti tetapi pemujanya demikian militan. mereka diamini
oleh kelompok-kelompok puritan religius yang merasa terancam oleh keberadaan
teori Evolusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar